Chapter 1, Mimpi Aneh

Segalanya terasa buram… Pemandangan sama yang selalu ada di mimpinya… Sebuah pohon raksasa dan sebuah kolam kecil disampingnya. Dia tahu dia sedang bermimpi, mimpi yang selalu muncul setiap dia tidur, mimpi yang sudah ada sejak dia lahir. Namun ada sesuatu yang mulai berbeda, akhir-akhir ini mimpinya menjadi semakin jelas, dan mulai ada suara yang selalu mengganggunya.

“… ngatlah… …disini… …unggumu…” Suara itu kian hari kian jelas, namun dia masih tidak mampu merangkai kata-kata yang muncul dari suara itu.

“Siapa? Kamu siapa?” Entah kenapa dia selalu merasa mengenal suara ini, bahkan dia merindukan kehadiran suara ini.

“…patlah… …disi… …mu…” Suara itu mengecil dan kemudian hilang.

Dan dia pun terbangun dari mimpinya. Selalu saja, disaat seperti ini, dia terbangun. Dia bangkit dari tidurnya dan beranjak membuka pintu. Rasanya haus sekali, dengan malas dia berjalan ke dapur dan menuangkan segelas susu dan meneguknya dengan pelan.

‘Apa sih arti mimpi itu? Apa yang ingin disampaikan kepadaku?’ pikirnya dalam hati. Dia selalu saja merasa aneh, kadang ada sesosok yang sedang berdiri di samping pohon itu, yang dia tidak tahu siapa namun selalu saja menimbulkan perasaan rindu di hatinya.

‘Sudahlah… Nanti juga akan jelas dengan sendirinya.’ Dia menghabiskan minumannya dan kemudian kembali ke kamar dan tidur.

^-^

 Pagi hari…

Di sebuah bangunan apartemen, lantai 15…

Kriingggg!! Kriinggggg!!!

Sebuah suara yang memekakkan telinga membangunkan seorang gadis yang tadinya sedang tertidur dengan nyenyaknya. Dia menggeliat, mengernyitkan dahi, mengerjapkan mata kemudian membuka sepasang matanya. Dengan malam dia bangkit dari tidurnya, mengambil satu stel baju yang tergeletak di atas meja belajar dan beranjak ke kamar mandi.

Lima belas menit kemudian, gadis itu muncul dengan wajah berseri-seri. Dia merapikan pakaiannya, menyisir rambut dan tersenyum cerah.

“Pagi semuanya, hari yang cerah.” Dia mengucapkan selamat pagi yang entah ditujukan kepada siapa, anehnya atmosfer yang ada disekelilingnya pun berubah. Jendela yang tertutup rapat seolah-olah tidak mampu menahan udara yang bergolak terbuka lebar, dan terdengar suara percikan air di kamar mandi meskipun tidak ada orang yang sedang menggunakan kamar mandi.

Setelah selesai, dia membuka pintu kamar dan berjalan ke ruang makan. Di ruang makan, terlihat dua orang pria keren sedang duduk dengan santainya, yang satu sedang membaca koran dan yang satu lagi sedang mendengarkan radio.

“Pagi, Jil, pagi Feng.” sapa gadis itu dengan senyum manis, dia berjalan mendekati kedua pria tersebut dan duduk di seberang mereka.

“Pagi, Lyn, bagaimana tidurmu?” Pria yang sedang membaca meletakkan korannya dan membalas sapaan gadis itu dengan hangat.

“Pagi, sarapan akan segera siap, tapi Luca belum bangun.” Feng melepaskan salah satu earphone yang bertengger di telinganya.

“Oh… ga pa-pa sih, aku tahu dia kecapekan, apalagi ada orang yang tidak mampu mengontrol nafsunya,” Gadis yang dipanggil Lyn itu tersenyum penuh arti pada kedua pria yang ada di hadapannya.

“Lyn, kamu itu cewek.” Jullian membalas sambil menggeleng-gelengkan kepala, bisa-bisanya seorang gadis membuat pernyataan seperti itu.

“Pria identik dengan nafsu.” Feng berkata singkat sambil tersenyum kecil, senyum yang hanya ditujukan untuk orang yang penting baginya.

“Feng! Jangan mengatakan hal seperti itu di hadapan cewek donk.” Jullian memperingatkan sambil mendesah kecil.

“Lagi gosipin apa nich?” tiba-tiba tersengar sebuah suara yang ikut nimbrung, ketiga orang yang ada di ruang makan pun menoleh ke pintu, seorang pria berbola mata hijau yang imut berdiri bersandar. Wajahnya terlihat lelah namun matanya berbinar-binar bahagia.

“Kamu seharusnya beristirahat.” Jullian bangkit dari duduknya dan menghampiri pria itu kemudian memapahnya pada kursi yang disiapkan Feng.

“Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk sarapan bersama,” Luca berkata dengan senyum manis kemudian dengan tampang memelas dia menyambung kata-katanya,”…makanya kalian jangan keterlaluan donk men-forsir tenagaku.”

Gaya dan intonasi ucapannya membuat Evelyn tergelak, ketiga orang ini selalu saja mampu membuatnya tertawa lepas. Luca yang imut dan kocak, Jullian yang hangat tapi memiliki pemikiran kuno dan Feng yang dingin namun penuh perhatian, keseluruhan dari mereka membuatnya merasa sangat nyaman.

Ketiga pria yang mendengar suara gelak tawa Evelyn, tersenyum lega. Kekhawatiran mereka menjadi tidak beralasan sekarang, jika dibandingkan pertama kali mereka bertemu gadis itu di sekolah. Well, ralat, pertemuan pertama Feng dengan gadis itu bukan di sekolah.

“Luca sayang, kalau begitu kenapa kamu mau dipeluk? Kamu kan jauh lebih kuat, tapi… aku tidak bisa membayangkan adegan kamu memeluk orang, kayaknya benar-benar ga cocok dengan tampang imut kamu.” Evelyn sengaja menggoda Luca, Jullian dan Feng. Ketiga orang itu memang adalah kekasih yang saling mencintai, kisah cinta mereka begitu indah dan memikat, Eve yang paling tahu, karena dia ada ketika kisah cinta itu dimulai.

“Lyn!” Jullian terperangah, tidak disangkanya gadis itu mampu berkata seperti ini dengan entengnya, dia pun memijat lembut keningnya.

“Ayolah, kamu terlalu kuno, cinta tidak mengenal jenis kelamin, lagian, kan kamu tuh yang ngejar Luca pada mulanya, dan kenapa kamu yang merasa malu sih dengan perkataanku? Atau… jangan-jangan kamu merasa malu dengan dirimu sendiri yang mencintai cowok?” Evelyn kembali mengerjai Jullian, “kasihan Luca, untung ada Feng di sampingnya, jadi meskipun ga ada kamu, dia tetap bisa melanjutkan hidupnya.”ujar Eve dengan raut wajah sedih, dia bangkit dari duduknya dan memeluk Luca, pundaknya bergetar hebat.

“Bu-bukan… bukan seperti itu…ka-kamu ja-jangan nangiss…. aduhhhhh, gi-gimana ini, Feng?”Jullian kelabakan, dia memang tidak mampu berurusan dengan air mata wanita.

“Gadis nakal,” Feng hanya bergumam kecil tanpa ada niat untuk menolong Jullian, dia hanya memelukkedua lengannya sambil bersandar pada meja makan.

“Benarkah? Benarkah yang dikatakan Lyn? Ternyata… pantes saja akhir-akhir ini kamu dingin terhadapku.” Luca tersenyum sedih.

“Bukan… percayalah kepadaku, aku… aku tidak pernah berhenti mencintaimu, rasa cintaku selalu bertambah hingga sesak rasanya, akhir-akhir ini aku cuman tidak ingin melihat kamu kecapekan, ja-jadi…” Jullian menjelaskan dengan tergagap-gagap, dia memang bukan tipe orang yang bisa mengatakan cinta.

“Oh ya? Kamu tidak berbohong? Aku bisa menerimanya koq kalau kamu memang sudah tidak ada perasaan terhadapku.” Luca berusaha mengabaikan air mata yang sedang bermain di matanya.

“Percayalah kepadaku! Aku akan selalu mencintaimu dan menemanimu, selamanya.” Jullian tiba-tiba menyambar tangan Luca, melepaskannya dari pelukan Evelyn dan memeluknya erat, erat sekali hingga membuat Luca susah bernafas. Setelah beberapa saat, Jullian dengan lembutnya melepaskan pelukannya dan mendaratkan sebuah ciuman manis di bibir Luca.

“Wow! Ternyata Jullian yang kaku bisa juga bersikap seromantis ini, aku serasa menonton drama idola asia, Romantisnya…” Evelyn, sang biang kerok menonton adegan itu dengan mata berbinar-binar, dia terduduk di kursi dan kedua lengannya ditangkupkan sedemikian rupa hingga menahan dagu.

“…” Feng hanya menggeleng-gelengkan kepala, dasar jahil, bisa-bisanya Jullian percaya dengan kata-kata seperti itu, tapi… mungkin kalau kejadian ini terjadi padanya dia juga akan bereaksi seperti itu. Dia tidak ingin kesedihan dan kepedihan berbayang di bola mata yang jernih itu, membayangkannya saja membuat hatinya sakit.

 Setelah entah berapa lama, kedua insan yang tengah memadu kasih itu pun tersadar dari kegiatan mereka yang adult-rated. Keduanya melepaskan pelukan dengan wajah tersipu malu, terlebih-lebih Jullian. Evelyn hanya tergelak melihatnya.

“Lyn, kamu terlalu jail, dan kamu juga, Luca,” Jullian berkata setelah beberapa saat, dia tidak sebodoh itu tidak menyadari kenakalan Evelyn. Luca juga, bisa-bisanya dia mengikuti kenakalan gadis itu.

“Maaf, tapi aku senang mendengarnya,” Luca tersenyum manis, membuat ketiga orang yang ada di situ terpana.

“Untuk memastikan kalian berdua tidak melakukannya lagi,” Feng tersenyum, senyuman yang selalu muncul di kala dia ingin mengerjai seseorang, “bersiaplah untuk beristirahat selama seminggu, Luca dan kamu Lyn, mulai hari ini tidak ada sarapan untukmu selama seminggu.”

“Apa?!!”

^-^

 ”Dasar Feng jahat, sadis, dingin, tidak berperasaan, gila kerja, padahal bukan dia yang dikerjain, koq malah dia yang ngasih hukuman sih? Lagian… seminggu… lama amat…” gerutu Lyn dengan tampang memelas, dia sekarang sedang duduk di bus menuju Airia, sebuah perusahaan agensi raksasa yang memiliki banyak artis dan model top di bawah naungannya.

Boleh dibilang Evelyn adalah gadis yang sangat beruntung, dia sudah imigrasi ( kalau bisa dibilang imigrasi tapi mungkin kata tepatnya adalah berpindah dimensi ) ke tempat ini setengah tahun, kemudian untuk lebih gampangnya berkeliaran, Luca mengubah ingatan orang-orang di sekitar dan data-data yang ada sehingga mereka menjadi penduduk lokal.

Masing-masing dari mereka mencari kesibukan sendiri, Luca yang polos dan lugu dilarang oleh Feng dan Jullian berkeliaran tanpa mereka, hanya dirumah berkutat dengan game online. Feng, yang memang memiliki otak bisnis, membuka usaha pegadaian dan pelelangan, sementara Jullian, dia yang memang penyayang, memilih membuka praktek kecil-kecilan sebagai ahli terapis.

Back to the story…

Evelyn terpana melihat keadaan di sekelilingnya…. Dia tidak tahu lowongan kerja ini sebegitu menariknya sampai-sampai ruang tunggu ini yang sedemikian luas ini menjadi penuh sesak. Evelyn menahan gejolak aneh di perutnya sambil menghitung jumlah orang yang hadir di ruangan ini. Se-seratus lima puluh delapan?!! Sebanyak ini yang menginginkan posisi sebagai asisten? Apa tidak salah?

Evelyn kembali melongo melihat penampilan orang-orang yang hadir. Ini sebenarnya interview atau sedang ada ajang kontes kecantikan? Batin Evelyn dalam hati, yang paling anehnya ada yang sampai memakai baju tradisional dimodifikasi sedemikian rupa hingga menampilkan lekuk tubuh. Evelyn tersenyum pahit, rasa mual di perutnya semakin menjadi-jadi ketika beberapa dari mereka berjalan melewatinya dengan menebar aroma parfum yang sangat menyengat, well, ini adalah reaksi normal, bisakah kamu membayangkan beberapa jenis aroma yang bercampur baur menjadi sebuah aroma aneh yang menyebar di dalam ruangan?

Hatchiiii!! Hatchiii!!!! Hatchiiiiii!!!!!

Evelyn mengarahkan pandangannya pada asal suara bensin yang muncul.

Komentar bertahan »

Love Dimention, Prolog

 

“Aku ikut” sebuah suara tiba-tiba menimpali pembicaraan ketiga orang pria. Mereka semua terkejut, bukannya terkejut akan kedatangan gadis itu sih, karena mereka sudah tahu kalau gadis itu sedari tadi berdiri di depan pintu dan menguping pembicaraan mereka.

“… maaf, tolong diulangi sekali lagi?” Luca terdiam beberapa saat kemudian bertanya memastikan. Dia tidak tahu apa yang merasuki gadis itu sehingga bisa-bisanya dia mengeluarkan pernyataan yang sangat tidak masuk akal tersebut.

“Luca sayang, diulang berapa kali pun sama saja, aku bilang aku ikut.” Gadis itu tersenyum geli melihat reaksinya, tapi sorot matanya menunjukkan keteguhan hatinya.

“Lyn, kamu ada keluarga disini, kalau kamu ikut, kami tidak dapat memastikan kapan akan kembali.”Julian berusaha memberikan penjelasan, dia terlalu sayang pada gadis yang sudah dianggapnya adik itu.

“Keluarga? Jun, kamu tidak salah ngomong? Keluargaku satu-satunya hanyalah ibuku, dan beliau sudah meninggal 3 tahun yang lalu.” Gadis itu kembali tersenyum, namun kali ini dengan gaya yang sarkastik.

“Bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Feng dengan cool, diantara mereka semua, memang dialah yang paling tenang menanggapi keinginan Evelyn, mungkin karena dia sudah memprediksikan hal ini dengan naluri dan otak bisnisnya.

“Aku sudah mempelajari semua yang diajarkan disekolah, yang aku perlukan sekarang justru adalah pengalaman, jadi malah lebih bagus bagiku untuk mengikuti kalian daripada kembali ke sekolah yang sudah tidak bisa mengajarkan apa-apa kepadaku.”

“Baiklah… kamu sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan sendiri.”Luca menyerah, dia tahu sekali watak gadis itu, meskipun biasanya dia menyenangkan tapi begitu gadis itu sudah mengambil keputusan, dia akan sekeras batu. Lagipula kalaupun tidak diizinkan, gadis itu akan mencari kesempatan untuk mengikuti mereka.

“Bagus, kapan kita berangkat?” tanya gadis itu dengan senyum penuh kemenangan mengembang di wajahnya.

“Eve, aku sendiri tidak tahu kemana saudaraku itu pergi. 100.000 ribu tahun yang lalu, dia merasa bosan melihat-lihat saja, jadi dengan seenaknya dia meninggalkan sebuah pesan yang mengatakan dia ingin bermain di dunia, dan begitu aku mengetahui hal itu, dia sudah tidak bisa kulacak. Dia menyegel kekuatannya sendiri, dan mungkin aza sekarang dia sedang berkelana entah ke dimensi mana tanpa mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.” Luca mendesah pelan, dia sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh saudaranya.

“Ok, sebenarnya kamu masih bisa melacak kemana saudara kamu dari jenis kekuatannya. Kamu hanya perlu berkonsentrasi dan mencari siapa saja yang memiliki kekuatan yang terlalu besar untuk dimiliki oleh manusia. Aku pikir, dia pasti sama seperti kamu, meskipun udah menyegel kekuatan, tapi dia pasti akan mengendap di dalam tubuh kamu.” gadis itu dengan tenangnya duduk dan meneguk teh lavender yang diseduh oleh Feng.

“Oh iya, aku koq ga kepikiran sampai situ ya?” selesai berkata, Luca segera mengerahkan kekuatannya untuk melacak kekuatan2 besar yang tersebar di seluruh dunia.

“Ketemu!! Di sebuah dimensi, aku menemukan beberapa kekuatan yang lumayan besar.” Luca tiba-tiba membuka matanya dan tersenyum senang.

“Bagus, kalau begitu kita bisa berangkat kan?” timpal gadis itu sama cerianya.

“Kayaknya ga bisa secepat itu… well, terlebih lagi untuk kamu, Eve. Tempat itu sama sekali berbeda dengan dunia ini, minimal kamu harus mengenal segala sesuatu yang ada di dunia itu sebelum kita berangkat.” Luca menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Uh oh… tidak bisakah kita ke situ dulu baru perlahan-lahan mempelajarinya?” tanya gadis itu penuh harap.

“Tidak… Bumi bukan tempat yang seperti dunia ini, sama sekali berbeda, disana tidak ada sihir, tapi memiliki teknologi yang terus berkembang. Manusia di situ tidak mampu menggunakan elemental spirit, tapi dengan cerdiknya mereka membangun kebudayaan yang bahkan dunia sihir ini tidak mampu menandinginya.”Luca menjelaskan, dia pun memunculkan sebuah bola kristal di tangannya dan menyerahkan bola tersebut kepada Evelyn.

“Rembrant itu menyimpan pengetahuan tentang dunia tersebut, kamu bisa mendapatkan pengetahuan dari situ. Pelajarilah dulu, kalau kamu sudah siap, kita akan berangkat.”

“Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu.” Gadis itu membungkuk kecil dan berjalan keluar ruangan.

“Hh… dia terlalu memaksakan dirinya untuk bersikap ceria, mungkin bagus juga baginya untuk ikut berkelana bersama kita, dengan demikian dia mampu melupakan kesedihannya.” Julian berkata segera setelah gadis itu menutup pintu.

“Siapa yang tidak merasa sedih? Adik yang selalu disayanginya ternyata sama seperti saudara yang lainnya, merendahkannya dan bahkan mendekatinya untuk bisa mendapatkan tunangannya yang seorang Marquis. Dan tunangan bego itu dengan mudahnya tergoda sampai-sampai adiknya hamil. Yang paling menyebalkan adalah adiknya bahkan merasa bangga akan kehamilan di luar nikah itu dan berpura-pura merasa bersalah di hadapan Eve.”

“Kamu terlalu emosional, lagipula, hukuman berat sudah menanti mereka.” Feng mengelus lembut rambut Luca sambil tersenyum kecil.

“Kamu benar, aku tidak seharusnya seemosional ini, dunia ini tidak mampu menahan gejolak kekuataanku walau hanya sepersekian persen.” Luca berkata dengan muram.

“Jangan terlalu dipikirkan, kalau kamu merasa bosan, kami akan dengan senang hati menemanimu hingga kamu terkapar di ranjang selama berhari-hari sehingga kamu tidak dapat berpikiran negatif.” Feng tersenyum penuh makna yang diiringi oleh suara tertawa Julian.

“Hm… ide kamu boleh juga tuh.”

“Ti-tidak… aku tidak berpikiran negatif…” Raut wajah Luca memerah dan dia berkata dengan suara terbata-bata, Ugh! Kenapa sih dia selalu tidak mampu melawan kedua orang ini? Padahal kekuatan Luca jauh lebih besar dibandingkan mereka, rutuk Luca dalam hati, tapi… untunglah ada mereka berdua….

Komentar (1) »