Chapter 1, Mimpi Aneh

Segalanya terasa buram… Pemandangan sama yang selalu ada di mimpinya… Sebuah pohon raksasa dan sebuah kolam kecil disampingnya. Dia tahu dia sedang bermimpi, mimpi yang selalu muncul setiap dia tidur, mimpi yang sudah ada sejak dia lahir. Namun ada sesuatu yang mulai berbeda, akhir-akhir ini mimpinya menjadi semakin jelas, dan mulai ada suara yang selalu mengganggunya.

“… ngatlah… …disini… …unggumu…” Suara itu kian hari kian jelas, namun dia masih tidak mampu merangkai kata-kata yang muncul dari suara itu.

“Siapa? Kamu siapa?” Entah kenapa dia selalu merasa mengenal suara ini, bahkan dia merindukan kehadiran suara ini.

“…patlah… …disi… …mu…” Suara itu mengecil dan kemudian hilang.

Dan dia pun terbangun dari mimpinya. Selalu saja, disaat seperti ini, dia terbangun. Dia bangkit dari tidurnya dan beranjak membuka pintu. Rasanya haus sekali, dengan malas dia berjalan ke dapur dan menuangkan segelas susu dan meneguknya dengan pelan.

‘Apa sih arti mimpi itu? Apa yang ingin disampaikan kepadaku?’ pikirnya dalam hati. Dia selalu saja merasa aneh, kadang ada sesosok yang sedang berdiri di samping pohon itu, yang dia tidak tahu siapa namun selalu saja menimbulkan perasaan rindu di hatinya.

‘Sudahlah… Nanti juga akan jelas dengan sendirinya.’ Dia menghabiskan minumannya dan kemudian kembali ke kamar dan tidur.

^-^

 Pagi hari…

Di sebuah bangunan apartemen, lantai 15…

Kriingggg!! Kriinggggg!!!

Sebuah suara yang memekakkan telinga membangunkan seorang gadis yang tadinya sedang tertidur dengan nyenyaknya. Dia menggeliat, mengernyitkan dahi, mengerjapkan mata kemudian membuka sepasang matanya. Dengan malam dia bangkit dari tidurnya, mengambil satu stel baju yang tergeletak di atas meja belajar dan beranjak ke kamar mandi.

Lima belas menit kemudian, gadis itu muncul dengan wajah berseri-seri. Dia merapikan pakaiannya, menyisir rambut dan tersenyum cerah.

“Pagi semuanya, hari yang cerah.” Dia mengucapkan selamat pagi yang entah ditujukan kepada siapa, anehnya atmosfer yang ada disekelilingnya pun berubah. Jendela yang tertutup rapat seolah-olah tidak mampu menahan udara yang bergolak terbuka lebar, dan terdengar suara percikan air di kamar mandi meskipun tidak ada orang yang sedang menggunakan kamar mandi.

Setelah selesai, dia membuka pintu kamar dan berjalan ke ruang makan. Di ruang makan, terlihat dua orang pria keren sedang duduk dengan santainya, yang satu sedang membaca koran dan yang satu lagi sedang mendengarkan radio.

“Pagi, Jil, pagi Feng.” sapa gadis itu dengan senyum manis, dia berjalan mendekati kedua pria tersebut dan duduk di seberang mereka.

“Pagi, Lyn, bagaimana tidurmu?” Pria yang sedang membaca meletakkan korannya dan membalas sapaan gadis itu dengan hangat.

“Pagi, sarapan akan segera siap, tapi Luca belum bangun.” Feng melepaskan salah satu earphone yang bertengger di telinganya.

“Oh… ga pa-pa sih, aku tahu dia kecapekan, apalagi ada orang yang tidak mampu mengontrol nafsunya,” Gadis yang dipanggil Lyn itu tersenyum penuh arti pada kedua pria yang ada di hadapannya.

“Lyn, kamu itu cewek.” Jullian membalas sambil menggeleng-gelengkan kepala, bisa-bisanya seorang gadis membuat pernyataan seperti itu.

“Pria identik dengan nafsu.” Feng berkata singkat sambil tersenyum kecil, senyum yang hanya ditujukan untuk orang yang penting baginya.

“Feng! Jangan mengatakan hal seperti itu di hadapan cewek donk.” Jullian memperingatkan sambil mendesah kecil.

“Lagi gosipin apa nich?” tiba-tiba tersengar sebuah suara yang ikut nimbrung, ketiga orang yang ada di ruang makan pun menoleh ke pintu, seorang pria berbola mata hijau yang imut berdiri bersandar. Wajahnya terlihat lelah namun matanya berbinar-binar bahagia.

“Kamu seharusnya beristirahat.” Jullian bangkit dari duduknya dan menghampiri pria itu kemudian memapahnya pada kursi yang disiapkan Feng.

“Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk sarapan bersama,” Luca berkata dengan senyum manis kemudian dengan tampang memelas dia menyambung kata-katanya,”…makanya kalian jangan keterlaluan donk men-forsir tenagaku.”

Gaya dan intonasi ucapannya membuat Evelyn tergelak, ketiga orang ini selalu saja mampu membuatnya tertawa lepas. Luca yang imut dan kocak, Jullian yang hangat tapi memiliki pemikiran kuno dan Feng yang dingin namun penuh perhatian, keseluruhan dari mereka membuatnya merasa sangat nyaman.

Ketiga pria yang mendengar suara gelak tawa Evelyn, tersenyum lega. Kekhawatiran mereka menjadi tidak beralasan sekarang, jika dibandingkan pertama kali mereka bertemu gadis itu di sekolah. Well, ralat, pertemuan pertama Feng dengan gadis itu bukan di sekolah.

“Luca sayang, kalau begitu kenapa kamu mau dipeluk? Kamu kan jauh lebih kuat, tapi… aku tidak bisa membayangkan adegan kamu memeluk orang, kayaknya benar-benar ga cocok dengan tampang imut kamu.” Evelyn sengaja menggoda Luca, Jullian dan Feng. Ketiga orang itu memang adalah kekasih yang saling mencintai, kisah cinta mereka begitu indah dan memikat, Eve yang paling tahu, karena dia ada ketika kisah cinta itu dimulai.

“Lyn!” Jullian terperangah, tidak disangkanya gadis itu mampu berkata seperti ini dengan entengnya, dia pun memijat lembut keningnya.

“Ayolah, kamu terlalu kuno, cinta tidak mengenal jenis kelamin, lagian, kan kamu tuh yang ngejar Luca pada mulanya, dan kenapa kamu yang merasa malu sih dengan perkataanku? Atau… jangan-jangan kamu merasa malu dengan dirimu sendiri yang mencintai cowok?” Evelyn kembali mengerjai Jullian, “kasihan Luca, untung ada Feng di sampingnya, jadi meskipun ga ada kamu, dia tetap bisa melanjutkan hidupnya.”ujar Eve dengan raut wajah sedih, dia bangkit dari duduknya dan memeluk Luca, pundaknya bergetar hebat.

“Bu-bukan… bukan seperti itu…ka-kamu ja-jangan nangiss…. aduhhhhh, gi-gimana ini, Feng?”Jullian kelabakan, dia memang tidak mampu berurusan dengan air mata wanita.

“Gadis nakal,” Feng hanya bergumam kecil tanpa ada niat untuk menolong Jullian, dia hanya memelukkedua lengannya sambil bersandar pada meja makan.

“Benarkah? Benarkah yang dikatakan Lyn? Ternyata… pantes saja akhir-akhir ini kamu dingin terhadapku.” Luca tersenyum sedih.

“Bukan… percayalah kepadaku, aku… aku tidak pernah berhenti mencintaimu, rasa cintaku selalu bertambah hingga sesak rasanya, akhir-akhir ini aku cuman tidak ingin melihat kamu kecapekan, ja-jadi…” Jullian menjelaskan dengan tergagap-gagap, dia memang bukan tipe orang yang bisa mengatakan cinta.

“Oh ya? Kamu tidak berbohong? Aku bisa menerimanya koq kalau kamu memang sudah tidak ada perasaan terhadapku.” Luca berusaha mengabaikan air mata yang sedang bermain di matanya.

“Percayalah kepadaku! Aku akan selalu mencintaimu dan menemanimu, selamanya.” Jullian tiba-tiba menyambar tangan Luca, melepaskannya dari pelukan Evelyn dan memeluknya erat, erat sekali hingga membuat Luca susah bernafas. Setelah beberapa saat, Jullian dengan lembutnya melepaskan pelukannya dan mendaratkan sebuah ciuman manis di bibir Luca.

“Wow! Ternyata Jullian yang kaku bisa juga bersikap seromantis ini, aku serasa menonton drama idola asia, Romantisnya…” Evelyn, sang biang kerok menonton adegan itu dengan mata berbinar-binar, dia terduduk di kursi dan kedua lengannya ditangkupkan sedemikian rupa hingga menahan dagu.

“…” Feng hanya menggeleng-gelengkan kepala, dasar jahil, bisa-bisanya Jullian percaya dengan kata-kata seperti itu, tapi… mungkin kalau kejadian ini terjadi padanya dia juga akan bereaksi seperti itu. Dia tidak ingin kesedihan dan kepedihan berbayang di bola mata yang jernih itu, membayangkannya saja membuat hatinya sakit.

 Setelah entah berapa lama, kedua insan yang tengah memadu kasih itu pun tersadar dari kegiatan mereka yang adult-rated. Keduanya melepaskan pelukan dengan wajah tersipu malu, terlebih-lebih Jullian. Evelyn hanya tergelak melihatnya.

“Lyn, kamu terlalu jail, dan kamu juga, Luca,” Jullian berkata setelah beberapa saat, dia tidak sebodoh itu tidak menyadari kenakalan Evelyn. Luca juga, bisa-bisanya dia mengikuti kenakalan gadis itu.

“Maaf, tapi aku senang mendengarnya,” Luca tersenyum manis, membuat ketiga orang yang ada di situ terpana.

“Untuk memastikan kalian berdua tidak melakukannya lagi,” Feng tersenyum, senyuman yang selalu muncul di kala dia ingin mengerjai seseorang, “bersiaplah untuk beristirahat selama seminggu, Luca dan kamu Lyn, mulai hari ini tidak ada sarapan untukmu selama seminggu.”

“Apa?!!”

^-^

 ”Dasar Feng jahat, sadis, dingin, tidak berperasaan, gila kerja, padahal bukan dia yang dikerjain, koq malah dia yang ngasih hukuman sih? Lagian… seminggu… lama amat…” gerutu Lyn dengan tampang memelas, dia sekarang sedang duduk di bus menuju Airia, sebuah perusahaan agensi raksasa yang memiliki banyak artis dan model top di bawah naungannya.

Boleh dibilang Evelyn adalah gadis yang sangat beruntung, dia sudah imigrasi ( kalau bisa dibilang imigrasi tapi mungkin kata tepatnya adalah berpindah dimensi ) ke tempat ini setengah tahun, kemudian untuk lebih gampangnya berkeliaran, Luca mengubah ingatan orang-orang di sekitar dan data-data yang ada sehingga mereka menjadi penduduk lokal.

Masing-masing dari mereka mencari kesibukan sendiri, Luca yang polos dan lugu dilarang oleh Feng dan Jullian berkeliaran tanpa mereka, hanya dirumah berkutat dengan game online. Feng, yang memang memiliki otak bisnis, membuka usaha pegadaian dan pelelangan, sementara Jullian, dia yang memang penyayang, memilih membuka praktek kecil-kecilan sebagai ahli terapis.

Back to the story…

Evelyn terpana melihat keadaan di sekelilingnya…. Dia tidak tahu lowongan kerja ini sebegitu menariknya sampai-sampai ruang tunggu ini yang sedemikian luas ini menjadi penuh sesak. Evelyn menahan gejolak aneh di perutnya sambil menghitung jumlah orang yang hadir di ruangan ini. Se-seratus lima puluh delapan?!! Sebanyak ini yang menginginkan posisi sebagai asisten? Apa tidak salah?

Evelyn kembali melongo melihat penampilan orang-orang yang hadir. Ini sebenarnya interview atau sedang ada ajang kontes kecantikan? Batin Evelyn dalam hati, yang paling anehnya ada yang sampai memakai baju tradisional dimodifikasi sedemikian rupa hingga menampilkan lekuk tubuh. Evelyn tersenyum pahit, rasa mual di perutnya semakin menjadi-jadi ketika beberapa dari mereka berjalan melewatinya dengan menebar aroma parfum yang sangat menyengat, well, ini adalah reaksi normal, bisakah kamu membayangkan beberapa jenis aroma yang bercampur baur menjadi sebuah aroma aneh yang menyebar di dalam ruangan?

Hatchiiii!! Hatchiii!!!! Hatchiiiiii!!!!!

Evelyn mengarahkan pandangannya pada asal suara bensin yang muncul.

Tiada komentar »

Love Dimention, Prolog

 

“Aku ikut” sebuah suara tiba-tiba menimpali pembicaraan ketiga orang pria. Mereka semua terkejut, bukannya terkejut akan kedatangan gadis itu sih, karena mereka sudah tahu kalau gadis itu sedari tadi berdiri di depan pintu dan menguping pembicaraan mereka.

“… maaf, tolong diulangi sekali lagi?” Luca terdiam beberapa saat kemudian bertanya memastikan. Dia tidak tahu apa yang merasuki gadis itu sehingga bisa-bisanya dia mengeluarkan pernyataan yang sangat tidak masuk akal tersebut.

“Luca sayang, diulang berapa kali pun sama saja, aku bilang aku ikut.” Gadis itu tersenyum geli melihat reaksinya, tapi sorot matanya menunjukkan keteguhan hatinya.

“Lyn, kamu ada keluarga disini, kalau kamu ikut, kami tidak dapat memastikan kapan akan kembali.”Julian berusaha memberikan penjelasan, dia terlalu sayang pada gadis yang sudah dianggapnya adik itu.

“Keluarga? Jun, kamu tidak salah ngomong? Keluargaku satu-satunya hanyalah ibuku, dan beliau sudah meninggal 3 tahun yang lalu.” Gadis itu kembali tersenyum, namun kali ini dengan gaya yang sarkastik.

“Bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Feng dengan cool, diantara mereka semua, memang dialah yang paling tenang menanggapi keinginan Evelyn, mungkin karena dia sudah memprediksikan hal ini dengan naluri dan otak bisnisnya.

“Aku sudah mempelajari semua yang diajarkan disekolah, yang aku perlukan sekarang justru adalah pengalaman, jadi malah lebih bagus bagiku untuk mengikuti kalian daripada kembali ke sekolah yang sudah tidak bisa mengajarkan apa-apa kepadaku.”

“Baiklah… kamu sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan sendiri.”Luca menyerah, dia tahu sekali watak gadis itu, meskipun biasanya dia menyenangkan tapi begitu gadis itu sudah mengambil keputusan, dia akan sekeras batu. Lagipula kalaupun tidak diizinkan, gadis itu akan mencari kesempatan untuk mengikuti mereka.

“Bagus, kapan kita berangkat?” tanya gadis itu dengan senyum penuh kemenangan mengembang di wajahnya.

“Eve, aku sendiri tidak tahu kemana saudaraku itu pergi. 100.000 ribu tahun yang lalu, dia merasa bosan melihat-lihat saja, jadi dengan seenaknya dia meninggalkan sebuah pesan yang mengatakan dia ingin bermain di dunia, dan begitu aku mengetahui hal itu, dia sudah tidak bisa kulacak. Dia menyegel kekuatannya sendiri, dan mungkin aza sekarang dia sedang berkelana entah ke dimensi mana tanpa mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.” Luca mendesah pelan, dia sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh saudaranya.

“Ok, sebenarnya kamu masih bisa melacak kemana saudara kamu dari jenis kekuatannya. Kamu hanya perlu berkonsentrasi dan mencari siapa saja yang memiliki kekuatan yang terlalu besar untuk dimiliki oleh manusia. Aku pikir, dia pasti sama seperti kamu, meskipun udah menyegel kekuatan, tapi dia pasti akan mengendap di dalam tubuh kamu.” gadis itu dengan tenangnya duduk dan meneguk teh lavender yang diseduh oleh Feng.

“Oh iya, aku koq ga kepikiran sampai situ ya?” selesai berkata, Luca segera mengerahkan kekuatannya untuk melacak kekuatan2 besar yang tersebar di seluruh dunia.

“Ketemu!! Di sebuah dimensi, aku menemukan beberapa kekuatan yang lumayan besar.” Luca tiba-tiba membuka matanya dan tersenyum senang.

“Bagus, kalau begitu kita bisa berangkat kan?” timpal gadis itu sama cerianya.

“Kayaknya ga bisa secepat itu… well, terlebih lagi untuk kamu, Eve. Tempat itu sama sekali berbeda dengan dunia ini, minimal kamu harus mengenal segala sesuatu yang ada di dunia itu sebelum kita berangkat.” Luca menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Uh oh… tidak bisakah kita ke situ dulu baru perlahan-lahan mempelajarinya?” tanya gadis itu penuh harap.

“Tidak… Bumi bukan tempat yang seperti dunia ini, sama sekali berbeda, disana tidak ada sihir, tapi memiliki teknologi yang terus berkembang. Manusia di situ tidak mampu menggunakan elemental spirit, tapi dengan cerdiknya mereka membangun kebudayaan yang bahkan dunia sihir ini tidak mampu menandinginya.”Luca menjelaskan, dia pun memunculkan sebuah bola kristal di tangannya dan menyerahkan bola tersebut kepada Evelyn.

“Rembrant itu menyimpan pengetahuan tentang dunia tersebut, kamu bisa mendapatkan pengetahuan dari situ. Pelajarilah dulu, kalau kamu sudah siap, kita akan berangkat.”

“Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu.” Gadis itu membungkuk kecil dan berjalan keluar ruangan.

“Hh… dia terlalu memaksakan dirinya untuk bersikap ceria, mungkin bagus juga baginya untuk ikut berkelana bersama kita, dengan demikian dia mampu melupakan kesedihannya.” Julian berkata segera setelah gadis itu menutup pintu.

“Siapa yang tidak merasa sedih? Adik yang selalu disayanginya ternyata sama seperti saudara yang lainnya, merendahkannya dan bahkan mendekatinya untuk bisa mendapatkan tunangannya yang seorang Marquis. Dan tunangan bego itu dengan mudahnya tergoda sampai-sampai adiknya hamil. Yang paling menyebalkan adalah adiknya bahkan merasa bangga akan kehamilan di luar nikah itu dan berpura-pura merasa bersalah di hadapan Eve.”

“Kamu terlalu emosional, lagipula, hukuman berat sudah menanti mereka.” Feng mengelus lembut rambut Luca sambil tersenyum kecil.

“Kamu benar, aku tidak seharusnya seemosional ini, dunia ini tidak mampu menahan gejolak kekuataanku walau hanya sepersekian persen.” Luca berkata dengan muram.

“Jangan terlalu dipikirkan, kalau kamu merasa bosan, kami akan dengan senang hati menemanimu hingga kamu terkapar di ranjang selama berhari-hari sehingga kamu tidak dapat berpikiran negatif.” Feng tersenyum penuh makna yang diiringi oleh suara tertawa Julian.

“Hm… ide kamu boleh juga tuh.”

“Ti-tidak… aku tidak berpikiran negatif…” Raut wajah Luca memerah dan dia berkata dengan suara terbata-bata, Ugh! Kenapa sih dia selalu tidak mampu melawan kedua orang ini? Padahal kekuatan Luca jauh lebih besar dibandingkan mereka, rutuk Luca dalam hati, tapi… untunglah ada mereka berdua….

Komentar (1) »

Twilight

“Tentang tiga hal aku benar-benar yakin :

Pertama, Edward seorang vampir

Kedua, ada sebagian dirinya-dan aku tidak tahu seberapa dominan bagian itu-yang haus akan darahku

Dan ketiga, aku mencintainya. Dan cintaku padanya teramat dalam dan tanpa syarat.”

Ketika Isabella Swan pindah ke Forks yang muram, ia bertemu Edward Cullen, cowok misterius sangat memesona yang membuat perasaannya jungkir-balik. Dengan kulit porselen, sepasang mata keemasan, dan suara merdu malaikat, Edward sungguh sosok teramat menarik yang membuat Isabella terpikat. Selama ini Edward telah berhasil menyembunyikan identitasnya yang sesungguhnya, tapi Bella bertekad untuk menyingkapkan rahasia paling kelamnya.

Hanya saja Bella sama sekali tidak menyadari bahaya yang menantinya, ketika hubungannya dengan Edward semakin akrab. Dan sanggupkah Bella berpaling dan meninggalkan Edward sebelum segalanya terlambat dan tak ada jalan kembali baginya?

Ini adalah kisah cinta terlarang. Dan seperti cinta terlarang lainnya, cinta ini tak mengenal jalan kembali, selain menjadi hidup dan sekaligus mati pada saat yang sama.

Tiada komentar »

SuperMarket Mania

Today I tested the game, Supermarket Mania.

Wow… It’s Impressive, and It’s really my style~~~
I’ve not finished playing yet…
Well, the game is a dash game and about the role of SPG daily in supermarket, whereas she should fill up stuff and clean the floor as fast as possible coz the customers won’t wait for u.

That’s all, ciao

Tiada komentar »

Love and Pride

Tidak adil!!! Teriakku dalam hati, kutatap taman kecil yang menyimpan berbagai kenangan indah namun juga menyimpan berbagai luka dan penderitaan yang masih menganga lebar di hatiku. Mengapa, mengapa hanya aku yang menderita sementara yang lainnya hanya duduk dan bisa tertawa dengan bahagia? Cuma aku satu-satunya orang yang bersedih karena ditinggalkan kekasih. Aku tak rela! Apa salahku? Aku sudah berusaha sebaik mungkin tapi mereka tetap berpaling dariku. Aku takkan membiarkan hal itu terjadi, harus ada yang menemaniku terluka dan menderita.

Kulayangkan pandanganku ke sekeliling, mencari-cari target yang sesuai. Sepertinya tidak ada yang memenuhi persyaratan, baru saja aku hendak beranjak dari bangku yang kududuki seorang cowok berjalan ke arahku. Ahah! Ini dia, sasaran empuk, aku harus menciptakan kesempatan. Aku bangkit dari bangku taman, berjalan ke arahnya dan dengan ‘tidak sengaja’ menyenggol lengannya sehingga kami bertubrukan dan terjatuh.

 

 

“Ma-maaf, ka-kamu tak apa-apa?” tanyaku dengan panik, kukeluarkan saputangan dari sakuku dan berniat untuk membersihkan kemeja putih yang kotor itu.

“Tidak, aku tidak apa-apa. Tapi sepertinya kamu terluka.” Dia membantuku berdiri dan memapahku ke bangku tadi. Kemudian dia memeriksa keadaan tanganku yang agak lecet karena jatuh.

 

“Hanya luka kecil, tapi kamu… aku benar-benar minta maaf!! Kalau saja aku lebih berhati-hati tentu kamu tidak akan jatuh dan baju kamu tidak akan kotor. Uh… begini saja, kamu ikut ke rumahku, akan kucucikan kemeja kamu, takkan lama sekitar 30 menit saja.” usulku sambil meringis kesakitan. Untung aku tidak pernah berpikir untuk bunuh diri, luka segini saja aku sudah merasa sangat perih.

 

“Tidak penting, lukamu yang harus diperhatikan bukan kemejaku. Lukamu harus dibersihkan terlebih dahulu, tapi aku tidak menyediakan kotak P3K. Baiklah, aku ikut ke rumahmu.” Perhatiannya membuatku sedikit tidak tega, tapi kukuatkan hatiku. Aku tak mau menangis sendirian lagi, sangat menyedihkan sampai-sampai aku rasanya ingin mati saja.

 

Kubawa dia ke rumahku, kemudian dia membersihkan lukaku dengan hati-hati, sedangkan aku berusaha menahannya dan berhasil membujuknya untuk membiarkanku mencuci kemejanya yang kotor akibat ulahku.

 

“Maaf ya, kelihatannya kamu harus menunggu selama 15 menit sebelum bajumu kering. Ini kubawakan pakaian kakakku, kalau tak keberatan silakan dipakai.” Aku menyerahkan pakaian santai yang menurutku akan pas melekat ditubuhnya di depan kamar mandi.

Maaf, merepotkan. Ngomong-ngomong, boleh aku tahu namamu? Takdir telah mempertemukan kita dan mungkin akan lebih baik jika kita memiliki banyak teman.” Dia keluar dari kamar mandi dan duduk di ruang tamu. Kusuguhkan teh hangat padanya.

Oh… aku Stephanie Findertz.” Aku tersenyum kecil, senyum malu-malu yang sudah kupersiapkan dari tadi.

 

“Namaku Adrian Hawtroph, senang berkenalan denganmu walaupun dengan cara yang unik seperti itu.” Adrian tersenyum nakal, membuatku tertawa geli. Tertawa? Sudah berapa lama aku tidak tertawa seperti ini? Biasanya aku tertawa hanya untuk formalitas belaka, tapi hari ini aku tertawa lepas, tidak ada beban yang menghimpit di dada. Lagi-lagi rasa bersalah menguasaiku, namun cepat-cepat kutepiskan perasaan itu. Aku tidak boleh lemah, aku harus kuat.

 

“Yeah… memang lucu, hari ini aku sama sekali tidak berencana untuk membawa pulang seorang pria hanya karena kemejanya kotor gara-gara terjatuh di taman.” gurauku membuatnya kembali tertawa. Tawanya terlihat manis dan menawan, sepasang lesung pipi terlihat samar-samar kalau dia sedang tersenyum. kuperhatikan paras laki-laki ini, boleh juga. Dia tidak tampan, tapi menarik dan mempunyai daya tarik tersendiri yang sangat kuat sehingga mampu membuat orang lain merasa senang ketika bersamanya.

 

 

 

Tiga bulan sudah berlalu dan hubungan kami pun hampir menjurus ke arah hubungan yang lebih serius yaitu pacaran. Tapi kebaikannya membuatku tak tega untuk menghempaskan perasaannya yang melambung tinggi. Sudah berapa kali aku menolak pernyataannya dan dia kelihatannya sama sekali tidak menyerah. Memang hubungan kami boleh dibilang lumayan dekat, tapi ajakannya yang bersifat terlalu pribadi selalu kutolak dengan halus. Aku harus mengakui bahwa kepribadiannya membuatku tertarik padanya, tapi tertarik bukan berarti cinta lagipula aku tidak mampu melupakan sumpahku, dia terlalu baik untukku. Seharusnya hari itu aku tidak memilihnya, yang harus kupilih adalah playboy yang sering menginjak-injak perasaan kaum wanita.

Fanie!” Adrian menegurku. Kami janji hari ini hendak ke toko buku untuk membeli beberapa buku referensi untuk karya ilmiahku. Kutatap matanya yang lembut dan menjanjikan semua yang mampu menyenangkan hati setiap gadis.

 

“Hi, Drie. Yuk, berangkat.” Dia membukakan pintu mobilnya untukku dan mobil pun menderu ke jalan raya.

“Sudah kamu putuskan?” pertanyaan yang sudah biasa kembali terngiang di telingaku. Aku pura-pura tidak mengerti.

 

“Maksud kamu apa?”

 

“Perasaanku, sudah 2 minggu aku menyatakannya dan kamu terus menerus menolakku.” ungkapnya di sela-sela kesibukannya menyetir.

 

“Maaf, hari ini juga aku belum mampu menerima perasaan kamu.” ujarku dengan suara sendu. Maaf yach Drie, meskipun aku mampu melupakan sumpahku, tapi kekecewaan yang sudah kutelan beberapa kali membuatku tak sanggup lagi untuk jatuh cinta. Jatuh cinta padamu akan membuatku mengulangi kebodohanku yang dulu dan sekali lagi akan membuka luka lama yang hampir sembuh. Cinta… begitu besar penderitaan yang harus kuhadapi dan begitu banyak penyesalan yang akan datang menghampiriku. Cinta sudah menorehkan jejaknya di seluruh tubuhku, membuatku untuk selalu waspada jika ia kembali mendekat.

 

“Lagi-lagi aku harus menelan pil pahit, tapi aku tak akan menyerah sampai kamu menerimaku.” Aku menangkap adanya kepedihan dari sorot matanya dan nada suaranya.

 

“Kamu tidak usah menungguku, kamu pantas mendapatkan yang lebih baik.”

 

“Tapi cintaku tak bisa sembarangan dipindahkan. Aku tak mampu dan takkan mau melakukan hal itu. Menyayangimu adalah hal yang paling ingin aku lakukan sekarang, aku tidak tahu mengapa kamu terus menolakku. Namun aku tak akan menyerah sampai kamu mendapatkan pria pujaanmu. Sebelum kamu mempunyai kekasih, kesempatanku untuk mendapatkan cintamu masih terbuka, jadi jangan membujukku,” matanya menyorotkan keteguhan hatinya. Untuk sesaat hatiku berdetak kencang, tidak! Aku tidak boleh bergetar dan goyah hanya gara-gara perkataannya ini.

 

“Aku tak pantas untukmu, aku sudah bersumpah untuk tidak akan jatuh cinta lagi,” gumamku lirih, sakit! Sakit sekali, hatiku berdenyut sakit. Perih, pedih dan berbagai perasaan lainnya berkecamuk di dada, menghujamku dengan tajam dan kejam, mengoyak seluruh jiwaku menjadi serpihan kecil yang sulit disatukan kembali.

 

“Bersumpah?” dia mengernyitkan dahi, kemudian menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dan menoleh padaku. Berbagai pertanyaan bermunculan pada raut wajahnya.

 

“Ah… apa yang kamu katakan?” aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela, ternyata kami berhenti di jalanan yang agak sepi. Aku agak panik, dia cermat sekali mendengar semua kata-kataku.

 

“Kamu sendiri yang mengatakannya. Pandanglah aku, katakan apa maksudmu dengan bersumpah untuk tidak jatuh cinta lagi?” dia memegang kedua bahuku, memaksaku untuk menatap kedua bola matanya yang penuh pesona itu. Aku berusaha menghindar, aku tahu begitu menatap sepasang mata itu aku akan luluh, semua benteng pertahanan yang sudah kudirikan akan runtuh. Aku tak ingin hal itu terjadi, kekerasan hati yang sudah kubangun akan menjadi rapuh kembali. Namun aku tak kuasa menghindar, dia terlalu berpengaruh, mempengaruhi setiap hela nafas dan setiap sel di otakku. Mulutku mulai mengoceh, menuturkan semua yang terpendam di dasar hatiku.

 

“Aku bersumpah untuk tidak jatuh cinta lagi, aku sudah bersumpah. Kedua orang itu selalu bermanis mulut dan bibirnya penuh dengan rayuan gombal. Yang satu mendekatiku hanya karena kakak perempuanku seorang model yang sedang ngetop sedangkan yang satu lagi mendekatiku karena kepintaranku. Keduanya sama sekali tidak pernah mencintaiku, padahal aku selalu melakukan apa yang mereka inginkan. Tapi mengapa? Mengapa mereka harus mempermainkanku?! Mengapa harus aku yang selalu dicampakkan orang lain?!! Aku tak rela, benar-benar tak rela!!!” aku menumpahkan semua isi hatiku di hadapannya, kurasakan suaraku semakin lama semakin histeris. Air mata yang kuharapkan tak kunjung datang, tapi rasa sakit di hatiku terus bergelayut menertawakanku dengan penuh kemenangan.

 

“Lihatlah, seluruh tubuhku penuh dengan luka, air mata sudah mengering. Aku bahkan sudah tak bisa menangis lagi! Mereka dengan kejamnya mengatakan semua itu, mereka merendahkanku! Huh! Aku hanya seorang gadis dingin yang tak pernah bersikap romantis! Bagi mereka aku hanya sebuah alat, sebuah mainan untuk mencapai maksud mereka. Aku mungkin masih dapat menerima kenyataan ini kalau bukan karena ayahku yang playboy itu membawa seorang istri simpanan lagi yang bertujuan untuk menguasai harta peninggalan mama. Sekarang ini aku bukan lagi sebuah bejana retak, aku sudah hancur, hatiku sudah menjadi serpihan kecil yang sulit direkat kembali!” jeritku lagi. Dia menatapku dengan mata pedih, aku melihat rasa kasihan yang mulai timbul dari matanya. Dia pun merasa kasihan padaku, aku tak sudi!

 

“Jangan menatapku dengan mata penuh rasa kasihan, kuberitahu yach, aku dari pertama sudah merencanakan untuk mendekatimu dan kemudian menghancurkanmu juga. Kamu hanyalah sebuah alat pelampiasan, sebuah bidak catur yang sudah kupersiapkan! Aku tak butuh rasa kasihanmu itu! Aku sudah muak!!!” ejekku, jangan menatapku lagi dengan mata itu, aku tak tahan… kumohon….

 

“Cukup sudah! Jangan menyakiti diri sendiri lagi, kamu begitu mungil, begitu lembut… tega-teganya mereka berbuat begitu. Mereka yang tak pantas untukmu, aku tahu aku tidak boleh berpikir begitu tapi aku bersyukur kepada Tuhan yang sudah mempertemukan kita dalam keadaan seperti ini, kalau bukan karena kehendak-Nya kita tidak akan berjumpa dan aku pasti sudah melewati hidupku dengan hambar. Tuhan selalu memperhatikan kita,” tuturnya dengan bijaksana. Aku menatapnya tak percaya, orang ini- orang ini berani menguliahiku?

 

“Memangnya kamu kira kamu siapa? Bersyukur? Kalau benar Tuhan selalu memperhatikan kita, mengapa aku harus diberi cobaan seperti ini? Keluarga yang berantakan, dan laki-laki yang hanya mengejar keuntungan dariku!” aku membuka pintu mobil dan turun dari mobil.

 

“Tunggu!” teriaknya sembari menyusulku. Hanya dalam beberapa detik dia sudah berjalan di sampingku dan mencekal tanganku.

 

“Lepaskan!” aku menatapnya dengan marah, semua pria sama saja, dia pun tak terkecuali. Aku memberontak sekuat tenaga, tapi aku kalah kuat.

 

“Aku takkan melepaskanmu! Aku mencintaimu, tak mungkin aku melepaskanmu begitu saja.”

 

“Oh ya? Sebaliknya aku sama sekali tidak mencintaimu, aku tidak butuh cinta dan perhatian dari pria. Kukira kamu berbeda, tapi sama saja. Bersyukur atas hal yang menimpaku heh? Dengar! Jangan dekati aku lagi atau aku takkan memaafkanmu.” Kuinjak kakinya dengan kuat, dia meringis kesakitan. Ketika kurasakan tangannya yang memegangku melemah aku langsung memberontak dan menyetop sebuah taksi. Hatiku sakit sekali, terasa pilu dan tersayat, orang sebaik dia tak seharusnya bertemu dengan setan licik sepertiku.

 

Aku menoleh ke belakang dia masih berlari mengejarku sampai akhirnya dia tersandung batu dan jatuh. Kemudian dia berdiri, mematung di tengah jalan hingga tak terlihat lagi sosoknya. Air mata yang seharusnya sudah kering kembali mengalir, entah sejak kapan.

 

Sudah tiga bulan sejak saat itu, dinding yang sudah roboh tak mampu kubangun lagi. Adrian setiap hari datang menemuiku, namun selalu saja aku menolak bertemu dengannya. Untuk apa toh, hanya menambah kesedihanku saja. Hatiku pilu sekali, setiap kali kedatangannya aku selalu berpura-pura tidak berada di rumah. Aku selalu mengintip dari balik tirai jendela kamarku yang menghadap keluar. Sampai suatu saat dia tidak pernah datang lagi, tak pernah menemaniku lagi. Aku merasa kehilangan, sangat kehilangan. Setiap hari aku hanya berada di rumah dan terus menunggunya, menunggu kemunculannya. Aku sangat merindukan kehadirannya, bola matanya yang lembut dan terkadang bersinar nakal, merindukan canda tawa yang selalu dia lontarkan. Seharusnya aku senang dia tak lagi menggangguku, namun tak ada rasa gembira yang menyelimuti selain kehilangan. Beban yang kukira sudah terlepas, semakin berat menghimpit di dada. Adrian!! Berapa kali sudah aku memanggil namanya dalam hati, berapa kali sudah air mataku mengalir hanya karena mengenangnya. Aku tak lagi mampu tertawa, bahkan tersenyum pun sulit. Aku mencintainya, baru kusadari setelah semuanya terlambat. Aku yang sudah menghancurkan kebahagiaanku sendiri tidak mempunyai hak lagi untuk merengek pada Tuhan. Kesempatan untuk meraih cinta dan kasih sayang yang telah Dia berikan sudah kusia-siakan. Hidup yang kujalani sekarang hanya untuk menebus dosaku. Aku ingin mati namun aku tak dapat melakukannya, hal ini bertentangan dengan prinsip yang telah tertanam di hatiku. Aku kemudian berniat untuk menyerahkan hidupku pada Tuhan, menjadi seorang biarawati walaupun aku harus menjalani pembaptisan terlebih dahulu. Dengan begitu aku akan dapat mendoakan kebahagiaan Adrian setiap saat, mendoakan agar dia mampu melupakan wanita yang sudah berdosa ini. Sebuah keputusan yang kuanggap penyelesaian terbaik. Aku menerima semua ini dengan lapang dada.

 

“Kamu Stephanie kan? Ini aku, Paul temannya Adrian.” Seorang pria menyapaku ketika aku sedang berbelanja di mal.

 

“Hi, apa kabar?” balasku dan memaksakan sebuah senyum.

 

“Baik, tapi…” Paul terdengar ragu-ragu, sepertinya hendak berkata sesuatu.

 

“Tapi? Memangnya ada apa?” Paul membuatku penasaran.

 

“Adrian…”

 

“Memangnya ada apa dengan Adrian?” Apa yang telah terjadi? Adrian, apa yang telah terjadi dengannya? Ya

Tuhan, semoga sesuatu yang buruk tidak menimpanya.

 

“Adrian… dia… kurang baik kondisinya, sekarang dia berada di RSJ,” jawab Paul dengan muram. Ada sebersit luka pada sorot matanya.

 

“Di… RSJ?” tanyaku tak percaya. Adrian ada di RSJ?!!! Dadaku sesak sekali, mengapa dia sampai ada di RSJ? Tuhan! Jika semua kejadian ini yang telah mengubahnya, tolong sembuhkan dia karena dia tak bersalah. Dia hanyalah korban dari kebodohanku, aku rela menanggung semua dosaku. Jangan biarkan dia menderita karena aku karena aku sangat tidak berharga, bahkan aku merasa jijik dengan diriku sendiri, penuh dosa, keegoisan dan kebodohan.

 

“Kalau bukan karena kamu dia takkan berada di sana! Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?! Kamu sudah merusak hidupnya! Kasihan dia… sejak kecil dia adalah anak yang sama sekali tidak diharapkan… dia bahkan tak pernah merasakan cinta kasih yang seharusnya dia nikmati.” Paul menudingku, berteriak dengan frustasi dan marah. Apa maksudnya dengan anak yang tak diharapkan? Bukankah dia anak semta wayang? Seharusnya dia dilimpahi dengan semua yang terbaik.

 

“Dia anak yang tegar, tak sekali pun mengeluh tentang perlakuan orang tuanya, orang tuanya sama sekali tidak pernah berharap untuk punya seorang anak, bahkan ketika dia meraih prestasi yang baik pada usia yang masih sangat kecil orang tuanya sibuk meniti karir, bepergian ke sana ke mari untuk menumpuk kekayaan yang semakin lama semakin banyak. Adrian hanya dilimpahi uang yang banyak, dan ketika dia beranjak dewasa gadis-gadis mulai mengerubungi. Pertamanya dia mengira gadis-gadis itu suka padanya karena kepribadiannya, dan dia pun mulai menjalin kasih. Dia sangat menyayangi gadis itu, semua yang diinginkan dia berikan. Sampai akhirnya dia tak sengaja mendengar percakapan kekasihnya dengan orang lain, ternyata dia mendekati Adrian hanya karena uang, gadis itu begitu materialistis. Adrian menerimanya dengan lapang dada, dilepasnya rantai yang membelenggu antara dia dan gadis itu,” tutur Paul panjang lebar, air mata menggenang di matanya.

 

Aku tak percaya Adrian mengalami masa kecil yang begitu sulit, aku tak dapat membayangkan keadaannya saat itu. Seorang pemuda yang masih polos dan lugu dihadapkan pada kenyataan yang pahit. Tapi… mengapa dia masih mampu bersikap lembut padaku? Mengapa dia bisa begitu rela menerima semuanya, seorang anak yang tak diharapkan oleh orang tuanya, anak yang hanya dianggap pengganggu bagi kesuksesan karir. Oleh gadis lain dia hanyalah sebuah mesin pencetak uang, mengapa dia mampu menerima semua itu? Adrian!! Aku minta maaf, aku… aku yang membuatmu seperti itu. Air mata mulai menggenang, menumpahkan semua perasaan yang terasa sakit menghimpit.

 

“Adrian begitu polos, dikiranya setiap gadis berbeda jadi begitu dia masuk kuliah dia berpacaran lagi. Ternyata gadis itu tak beda dengan mantan kekasihnya hanya menuntut uang Adrian. Hatinya yang lugu sekali lagi dikecewakan, bukan hanya itu hari-hari berikutnya di kampus dia lalui dengan penuh sengsara. Seluruh mahasiswa kampus menertawakannya, mempermainkan perasaannya. Kabar tentang gadis-gadis materialistisnya menyebar ke seluruh kampus, dia bahkan hampir tak berani nongol di kampus lagi. Selama berbulan-bulan hal ini terus berlanjut sampai akhirnya dia ketemu kamu. Katanya dia tak ingin lagi dikecewakan, ia tahu kamu pernah melewati hari-hari yang buruk sepertinya. Dia ingin sekali menyembuhkan lukamu, dia berkata begitu dengan binar-binar cinta di matanya. Dia benar-benar mencintaimu, tapi mengapa? Mengapa harus kau lukai lagi perasaan dia? Dia begitu frustasi, selama setengah tahun ini dia mengoceh seorang diri, dia mengurung dirinya di rumah tak makan dan tak tidur dia hanya mengingatmu. Tiga bulan bersamamu adalah hari-hari yang paling berbahagia baginya, dia bahkan sudah merencanakan acara pada hari ulang tahunmu secara rahasia. Tapi sepertinya sudah tidak perlu lagi, sekarang dia sudah terkapar dalam keadaan yang menyedihkan di RSJ, tekanan batin yang selama ini terpendam dari dasar hatinya membuatnya menjadi kacau. Yang lebih ironis lagi, orang tuanya baru sadar akan perlakuan mereka setelah semua ini terjadi. Manusia selalu begitu, kehilangan baru tahu menyesalinya.” Paul terguncang sekali, dia hampir menjerit karena tak tahan dengan ledakan emosinya.

 

A-apa katanya? ADRIAN terkapar di RSJ? Aku terhenyak dan kalap, aku berlari secepat mungkin seperti orang gila, aku tak tahu berapa lama aku berlari dan aku juga tak tahu bagaimana aku keluar dari mal itu. Yang aku tahu hanyalah aku harus menemui Adrian bagaimanapun caranya, aku ingin meminta maaf padanya dan jika perasaannya padaku sudah berubah aku tidak akan berpikiran picik seperti dulu lagi, biarlah aku mencintainya dari jauh. Tiba-tiba saja aku merasa sekelilingku menjadi gelap. Kesadaranku semakin menghilang….

 

Ketika aku sadar aku sudah berada di rumah sakit tak jauh dari mal. Paul minta maaf atas perlakuannya padaku tadi, namun aku merasa apa yang dia tuduh sangat benar. Aku … Adrian! Maafkan aku… maafkan keegoisanku, kalau bukan karena harga diriku aku takkan meninggalkanmu. Aku segera meminta Paul untuk mengantarku ke RSJ tempat Adrian dirawat.

 

Itukah Adrian? Sosok yang begitu lusuh dan kumal di balik terali besi itukah Adrian yang selama ini aku kenal? Pakaiannya sobek dan penuh lumpur, tubuhnya kurus kering, tapi yang lebih mengejutkan adalah air mukanya. Rambutnya awut-awutan dan matanya sama sekali tidak menampilkan gairah hidup. Kosong tanpa jiwa, seolah-olah dia hanyalah seonggok tubuh tak bernyawa, sebuah boneka yang dikendalikan. Dia begitu kurus, begitu mengenaskan, aku….

 

“Adrian!!!” jeritku tanpa mampu menahan tangis. Salahku! Semua salahku, karena dosaku, perlakuanku kamu sampai…. Tuhan… sembuhkanlah dia, kumohon, aku rela menggantikannya. Aku langsung membuka pintu sangkar itu dan berlari memeluknya.

 

“Maafkan aku, Drie. Aku minta maaf, aku tak mengira semua perbuatanku akan berbuah seperti ini. Kalau saja waktu bisa berputar balik… aku tak akan menolakmu, aku tak akan berkata sekejam itu padamu. Mengapa waktu itu aku tidak mengutarakan isi hatiku padamu? Aku memang pengecut, aku tak berani mengakui aku sudah jatuh cinta padamu! Aku benar-benar bodoh, hanya demi sebuah harga diri yang tak bernilai itu aku menghancurkan semuanya. Kebahagiaan kita, aku…aku sudah membunuh semua kebahagiaan kita dengan tangan ini. Kalau saja waktu itu aku jujur… maafkan aku, sebenarnya aku mencintaimu, aku sudah mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Untuk mengakui cinta ini aku membutuhkan waktu yang begitu lama, aku begitu takut dikecewakan lagi, aku tak ingin luka yang menderaku semakin menganga, begitu sakit…. Drie… sadarlah… aku berjanji akan berada di sampingmu selalu, menemanimu dikala suka dan duka, dan aku tak akan melarikan diri lagi,” isakku, mengatakan semua yang telah menyesak di dada. Drie… kumohon, sadarlah, aku mencintaimu dan aku takkan meninggalkanmu. Namun sepertinya dia sama sekali tidak mendengar, dia bahkan tidak menghiraukanku. Dia hanya tersenyumdan tertawa terkekeh-kekeh dengan sorot mata kosong. Menyedihkan, sangat menyedihkan, aku sudah merusak masa depannya.

 

“Jangan khawatir, aku akan menemanimu sampai kamu sadar, sampai kamu kembali pada dunia nyata. Dan ketika kamu sudah sadar, kamu akan mendapatiku d sampingmu, menjagamu dan mencintaimu selalu. Kamu tak akan sendirian saja, akan selalu ada aku. Dan meskipun kamu tak pernah sadar aku tidak akan meninggalkanmu. Kamu adalah segalanya bagiku baik sekarang maupun nanti di masa depan. Aku tak akan pergi sampai kamu sendiri yang memintaku,” aku menggenggam kedua belah tangannya dan menatapnya dengan lembut. Aku tersenyum, aku tak pernah merasa sebahagia sekarang, dapat menemaninya setiap saat tanpa perlu merasa takut lagi. Cintaku padanya membuatku menjadi kuat, dan aku yakin dia akan sembuh, dia akan kembali padaku suatu hari nanti.

 

Beberapa bulan sudah lewat, sejak saat itu aku terus merawatnya. Orang tuanya sudah menyerahkan sepenuhnya padaku dan kukira mereka agak menyenangiku. Agar aku mampu menjaga Adrian setiap saat, aku menyewa sebuah rumah mungil dari harta warisan peninggalan mama. Waktu senggang yang ada kupergunakan untuk menulis cerita, cerita tentang kisah cinta antara aku dan Adrian. Adrian sekarang sudah terbiasa dengan kehadiranku, setiap saat aku selalu menceritakan momen-momen bahagia yang telah kurajut bersamanya. Bagaimana kami pertama kali bertemu, dan kisah-kisah selanjutnya hingga kami berdua bertengkar. Aku juga menceritakan tekadku untuk menjadi seorang biarawati padanya, bagaimana aku memutuskan untuk menyerahkan seluruh hidupku kepada Tuhan. Aku yakin jauh di dasar hatinya dia akan mengerti, karena dia mencintaiku. Aku selalu mempercayai adanya mukjizat dan doa-doa yang selalu aku ucapkan akan dapat membantunya. Tuhan tak pernah membiarkan umat-Nya menjalani cobaan yang tak dapat dilalui.

 

“Waktunya makan, Drie,” panggilku lembut, aku berjalan mendekatinya. Sorot matanya yang semula kosong tanpa gairah hidup sudah mulai memancarkan cahaya. Kadang-kadang dia sepertinya mengerti apa yang kuucapkan tapi mungkin itu hanya khayalanku saja karena sekejap kemudian dia mulai dengan kebiasaannya yang suka menggigit kuku. Aku senang sekali, dia sudah mulai tenang, lagipula dia sekarang sudah tidak sekurus waktu itu lagi, kesehatannya berangsur-angsur pulih. Kusuapi bubur ayam sesuap demi sesuap dan dia memakannya dengan lahap sampai habis.

 

“Bagus sekali, Drie. Kamu ingat aku? Ini Fanie, Fanie yang kamu sayangi, aku kembali lagi padamu. Aku mencintaimu, dan aku tak akan meninggalkanmu lagi.”aku berusaha menyadarkannya, kebiasaan yang telah terjalin selama beberapa bulan.

 

“Masih ingat ketika kita sama-sama ke taman hiburan? Aku sangat menyukai crepe di sana dan kamu membelinya banyak sekali khusus untukku. Terus kamu suka sekali mengagetkanku di rumah hantu walaupun kamu sudah tahu aku takut hantu, kamu bandel sekali waktu itu. Cepatlah sadar, aku ingin kamu membawaku ke sana lagi, kita akan bermain bersama lagi,” aku menceritakan kembali kisah yang sudah puluhan kali kuceritakan. Ah… kenangan indah yang takkan terlupakan, selamanya.

 

“Aku masih ingat kamu bilang kamu paling suka suasana di tepi pantai, kamu bilang romantis sekali, apalagi ketika sunset. Waktu itu aku menertawakanmu, soalnya kamu romantis sekali sich melukiskan pemandangan pantai padaku. Aku sebenarnya terharu sekali lho, aku sama sekali tidak menyangka kamu bisa menyukai hal yang sama denganku. Pasir putih yang berkilauan ditimpa sinar mentari senja, deburan ombak yang mendebarkan, samar-samar terdengar suara kepakan sayap burung camar. Nyiur melambai-lambai diayunkan oleh semilir angin, memberikan suasana damai yang menenangkan. Ini kalimat yang kamu ucapkan, begitu romantis bagaikan menyajak. Kamu mampu mendeskripsikan semuanya dengan indah sekali, pilihan kata-kata yang tepat benar-benar membuatku terlena,” aku tersenyum… dan kemudian mendesah kecil, aku masih mampu membayangkan suasana di kala itu, menghanyutkan. Tapi sekarang… aku hanya mampu memimpikannya, aku…. Aku tak boleh menyerah, aku tak boleh berhenti berharap! Aku takut… aku takut kalau aku berhenti berharap, aku akan kehilangan dia sekali lagi untuk selamanya.

 

Di lain waktu aku akan menceritakan tentang kesenangan kami berdua. Kisah-kisah indah yang terasa begitu hangat kututurkan dengan lembut.

“Drie, kamu ingat kejadian lucu di perpustakaan? Waktu itu kita suka sekali berdebat tentang segala hal yang dapat diperdebatkan. Kadang-kadang kita bahkan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memperdebatkan satu hal, misalnya bagaimana perumusan teori Mendel tentang genetika dalam prakteknya, atau bagaimana cara menolong anak-anak fakir miskin dan yatim piatu. Suatu hari gara-gara kita terlalu asyiknya membahas Kekuasaan Julius Caesar, kita jadi terkurung di dalam perpustakaan semalaman, sebenarnya waktu itu aku sempat deg deg-an juga tapi kamu emang gentleman. Kamu sih milih tempatnya di pojok-pojok, sampai-sampai petugasnya kira sudah tak ada orang lagi.” Atau aku akan bercerita tentang keinginan masa kecilnya untuk menjadi seorang pencuri budiman seperti Robin Hood, tapi yach… itu kan impian masa kecil. Cita-citanya yang sekarang kan menjadi seorang yang serba tahu dalam segala hal termasuk di dalamnya cara mengurus rumah tangga seperti bersih-bersih, memasak bahkan mencuci. Aku terharu sekali mendengarnya, tapi mana mungkin aku berani mengatakannya di hadapannya?

 

Ah… semua kenangan indah ini semakin hari kuceritakan semakin erat tertanam di otakku hingga tak mungkin aku akan mampu melupakannya. Semuanya begitu hangat dan menenangkan tapi juga membuatku sedih. Hari-hari indah seperti dulu mungkinkah dapat kurasakan lagi? Terkadang aku dapat berpikir dengan sangat pesimis, aku takut doa-doaku belum kuat untuk menghasilkan sebuah mukjizat seperti saat ini. Aku mulai meragukan segalanya, otakku mulai kacau dan bergerak tak beraturan bagaikan segondol benang kusut. Aku begitu terpaku dengan lamunanku hingga aku tidak merasakan keanehan Adrian yang sedari tadi berada di sampingku.

 

“Fa-anie…” sebuah suara serak menyadarkanku dari lamunan. Aku terkejut, berbagai perasaan bercampur baur… benarkah? Bolehkah aku menganggap ini adalah kenyataan dan bukan ilusi yang kuciptakan? Aku tak berani mendongakkan kepala, aku takut… aku takut kalau ini semua adalah mimpi, aku tak ingin terbangun dan mendapati kenyataan pahit yang harus kutelan.

 

“Fanie, ini aku… Adrian.” suara itu… suara itu… begitu nyata, Tuhan… ini bukan mimpi kan? Doa-doaku sudah terkabulkan? Apakah dosaku sudah terhapuskan atau Anda hanya bergurau. Lagi-lagi suara itu memanggilku, aku tak mampu lagi menahan perasaanku, aku mendongakkan kepala. Kulihat

Adrian tengah memandangku, sorot matanya berbinar-binar dan air mata menggenang pada kelopak matanya yang indah.

 

“Ini.. bukan mimpi?” bisikku, segala sesuatu terlihat buram namun aku masih mampu merasakan kehangatan yang selalu dia pancarkan dulu. Bukan mimpi! Ini bukan mimpi, Tuhan sudah mengembalikan Adrian padaku! Aku… aku….

 

“Bukan, ini aku Adrian. Jiwaku selalu mencari jalan untuk keluar dari tekanan ini, dan kamu… suaramu yang lembut mampu mencapai dasar hatiku yang paling dalam. Butuh waktu bagiku untuk menyadari segalanya, aku minta maaf sudah merepotkanmu.”

 

“Tuhan… betapa aku mendambakan saat-saat seperti ini, kamu kembali padaku, kamu benar-benar sudah kembali padaku. Kamu tak perlu meminta maaf, aku yang seharusnya minta maaf. Ini semua salahku, kalau bukan Paul yang menceritakan semuanya padaku, aku tak akan berada di sini. Aku… aku bahkan sudah memutuskan untuk menjadi seorang biarawati, tidak perduli lagi terhadap kisah cinta antara dua orang yang berlainan jenis. Tapi… ternyata Tuhan sama sekali tidak menghendakiku, dia mempertemukan aku dengan Paul.” Aku memeluknya, sebuah perasaan yang khas langsung menyelimutiku. Ah… dia benar-benar Adrian-ku, aku tidak kehilangan dia.

 

“Shh… aku sudah tahu semuanya. Setiap kata yang kamu ucapkan sudah tertanam erat dalam hatiku. Suaramu-lah yang menyelamatkan aku, menuntunku untuk kembali, mengembalikan semua keinginan yang sudah terkubur. Aku mencintaimu.” ujarnya lembut, dia menyeka air mataku dengan jari telunjuk.

 

Aku memandangnya lamat-lamat, dan kemudian tersenyum. Dialah yang selama ini kucari, tak perlu kata-kata dan kami dapat saling mengerti hanya dengan sebuah pandangan mata. Aku bersyukur sekali Tuhan mempertemukan dia denganku. Seluruh luka dan beban yang kupikul sirna sudah begitu melihat senyumnya yang hangat. Segala yang telah kulakukan ada hasilnya, tak sia-sia aku menanggung semuanya, tak sia-sia waktu setengah tahun yang kugunakan untuk merawatnya. Kepedihan dan penghinaan dari tetangga-tetangga yang kuterima bulat-bulat selama ini menjadi sangat tidak berarti. Yang paling membuatku bahagia adalah perasaan Adrian padaku belum berubah dan tak akan berubah selamanya. Cinta yang Adrian berikan padaku adalah cinta yang paling murni dan polos yang pernah kudapatkan, cinta yang mampu menerima seorang aku dan mampu memberikan segalanya hanya untukku. Aku tahu dia tidak mengharapkan apa pun dariku bahkan jika aku tidak mencintainya, dia akan tetap menyerahkan hatinya padaku.

 

“Aku juga mencintaimu,” balasku, kebahagiaan menyelimuti hati ini, hati yang mencintai Adrian. Untuk saat ini dan selamanya aku rasa aku tidak membutuhkan apa-apa kecuali cintanya. Terima kasih Tuhan atas kesempatan yang Anda berikan, aku tak akan pernah lagi menyia-nyiakannya. Perlahan tapi pasti dia mengecup keningku dengan mesra dan kami pun saling berpelukan hingga puas.

 

 

P.S.: Hidup itu sangat aneh, terkadang berjalan mulus dan di lain kali terasa begitu berat menjalaninya. Tapi apakah iman anda cukup kuat untuk menjalaninya walaupun sangat menderita? Keberanian sangat dibutuhkan oleh setiap orang, dan tentu saja ketabahan. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu yang ada cuma keinginan untuk melakukannya. Selamat membaca….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiada komentar »

My New Idol

Galz…

I’ve to tell you something…

I felt in love with someone

His name is Jiro Wang, a cute, hot guy I’ve ever seen

Gosh… he feel my mind every seconds

I’ll post up his pic for you alls

Jiro Wang

Tiada komentar »

Salam Kenal

Hai all. welcome to ancelyn’s blog, well, ini pertama kalinya saya membuat blog, so, if anything’s wrong, please don’t hesistate to tell me. Thanks for all

Tiada komentar »