Love Dimention, Prolog

 

“Aku ikut” sebuah suara tiba-tiba menimpali pembicaraan ketiga orang pria. Mereka semua terkejut, bukannya terkejut akan kedatangan gadis itu sih, karena mereka sudah tahu kalau gadis itu sedari tadi berdiri di depan pintu dan menguping pembicaraan mereka.

“… maaf, tolong diulangi sekali lagi?” Luca terdiam beberapa saat kemudian bertanya memastikan. Dia tidak tahu apa yang merasuki gadis itu sehingga bisa-bisanya dia mengeluarkan pernyataan yang sangat tidak masuk akal tersebut.

“Luca sayang, diulang berapa kali pun sama saja, aku bilang aku ikut.” Gadis itu tersenyum geli melihat reaksinya, tapi sorot matanya menunjukkan keteguhan hatinya.

“Lyn, kamu ada keluarga disini, kalau kamu ikut, kami tidak dapat memastikan kapan akan kembali.”Julian berusaha memberikan penjelasan, dia terlalu sayang pada gadis yang sudah dianggapnya adik itu.

“Keluarga? Jun, kamu tidak salah ngomong? Keluargaku satu-satunya hanyalah ibuku, dan beliau sudah meninggal 3 tahun yang lalu.” Gadis itu kembali tersenyum, namun kali ini dengan gaya yang sarkastik.

“Bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Feng dengan cool, diantara mereka semua, memang dialah yang paling tenang menanggapi keinginan Evelyn, mungkin karena dia sudah memprediksikan hal ini dengan naluri dan otak bisnisnya.

“Aku sudah mempelajari semua yang diajarkan disekolah, yang aku perlukan sekarang justru adalah pengalaman, jadi malah lebih bagus bagiku untuk mengikuti kalian daripada kembali ke sekolah yang sudah tidak bisa mengajarkan apa-apa kepadaku.”

“Baiklah… kamu sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan sendiri.”Luca menyerah, dia tahu sekali watak gadis itu, meskipun biasanya dia menyenangkan tapi begitu gadis itu sudah mengambil keputusan, dia akan sekeras batu. Lagipula kalaupun tidak diizinkan, gadis itu akan mencari kesempatan untuk mengikuti mereka.

“Bagus, kapan kita berangkat?” tanya gadis itu dengan senyum penuh kemenangan mengembang di wajahnya.

“Eve, aku sendiri tidak tahu kemana saudaraku itu pergi. 100.000 ribu tahun yang lalu, dia merasa bosan melihat-lihat saja, jadi dengan seenaknya dia meninggalkan sebuah pesan yang mengatakan dia ingin bermain di dunia, dan begitu aku mengetahui hal itu, dia sudah tidak bisa kulacak. Dia menyegel kekuatannya sendiri, dan mungkin aza sekarang dia sedang berkelana entah ke dimensi mana tanpa mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.” Luca mendesah pelan, dia sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh saudaranya.

“Ok, sebenarnya kamu masih bisa melacak kemana saudara kamu dari jenis kekuatannya. Kamu hanya perlu berkonsentrasi dan mencari siapa saja yang memiliki kekuatan yang terlalu besar untuk dimiliki oleh manusia. Aku pikir, dia pasti sama seperti kamu, meskipun udah menyegel kekuatan, tapi dia pasti akan mengendap di dalam tubuh kamu.” gadis itu dengan tenangnya duduk dan meneguk teh lavender yang diseduh oleh Feng.

“Oh iya, aku koq ga kepikiran sampai situ ya?” selesai berkata, Luca segera mengerahkan kekuatannya untuk melacak kekuatan2 besar yang tersebar di seluruh dunia.

“Ketemu!! Di sebuah dimensi, aku menemukan beberapa kekuatan yang lumayan besar.” Luca tiba-tiba membuka matanya dan tersenyum senang.

“Bagus, kalau begitu kita bisa berangkat kan?” timpal gadis itu sama cerianya.

“Kayaknya ga bisa secepat itu… well, terlebih lagi untuk kamu, Eve. Tempat itu sama sekali berbeda dengan dunia ini, minimal kamu harus mengenal segala sesuatu yang ada di dunia itu sebelum kita berangkat.” Luca menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Uh oh… tidak bisakah kita ke situ dulu baru perlahan-lahan mempelajarinya?” tanya gadis itu penuh harap.

“Tidak… Bumi bukan tempat yang seperti dunia ini, sama sekali berbeda, disana tidak ada sihir, tapi memiliki teknologi yang terus berkembang. Manusia di situ tidak mampu menggunakan elemental spirit, tapi dengan cerdiknya mereka membangun kebudayaan yang bahkan dunia sihir ini tidak mampu menandinginya.”Luca menjelaskan, dia pun memunculkan sebuah bola kristal di tangannya dan menyerahkan bola tersebut kepada Evelyn.

“Rembrant itu menyimpan pengetahuan tentang dunia tersebut, kamu bisa mendapatkan pengetahuan dari situ. Pelajarilah dulu, kalau kamu sudah siap, kita akan berangkat.”

“Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu.” Gadis itu membungkuk kecil dan berjalan keluar ruangan.

“Hh… dia terlalu memaksakan dirinya untuk bersikap ceria, mungkin bagus juga baginya untuk ikut berkelana bersama kita, dengan demikian dia mampu melupakan kesedihannya.” Julian berkata segera setelah gadis itu menutup pintu.

“Siapa yang tidak merasa sedih? Adik yang selalu disayanginya ternyata sama seperti saudara yang lainnya, merendahkannya dan bahkan mendekatinya untuk bisa mendapatkan tunangannya yang seorang Marquis. Dan tunangan bego itu dengan mudahnya tergoda sampai-sampai adiknya hamil. Yang paling menyebalkan adalah adiknya bahkan merasa bangga akan kehamilan di luar nikah itu dan berpura-pura merasa bersalah di hadapan Eve.”

“Kamu terlalu emosional, lagipula, hukuman berat sudah menanti mereka.” Feng mengelus lembut rambut Luca sambil tersenyum kecil.

“Kamu benar, aku tidak seharusnya seemosional ini, dunia ini tidak mampu menahan gejolak kekuataanku walau hanya sepersekian persen.” Luca berkata dengan muram.

“Jangan terlalu dipikirkan, kalau kamu merasa bosan, kami akan dengan senang hati menemanimu hingga kamu terkapar di ranjang selama berhari-hari sehingga kamu tidak dapat berpikiran negatif.” Feng tersenyum penuh makna yang diiringi oleh suara tertawa Julian.

“Hm… ide kamu boleh juga tuh.”

“Ti-tidak… aku tidak berpikiran negatif…” Raut wajah Luca memerah dan dia berkata dengan suara terbata-bata, Ugh! Kenapa sih dia selalu tidak mampu melawan kedua orang ini? Padahal kekuatan Luca jauh lebih besar dibandingkan mereka, rutuk Luca dalam hati, tapi… untunglah ada mereka berdua….

1 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    Tulisannya bagus banget..

    Salam kenal ya..

    Kalau ada waktu maen ya ke blog aku di
    http://centrafreeware.50webs.com


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Ungkapkan pendapat Anda